UAD Tetapkan Prioritas Penguatan Manajemen Risiko di Tengah Tantangan Eksternal
Yogyakarta, 12 November 2025 — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menggelar kegiatan Koordinasi Tim Manajemen Risiko bersama pimpinan universitas sebagai langkah strategis untuk memperkuat tata kelola dan kesiapan menghadapi dinamika internal maupun eksternal. Acara dibuka oleh Rektor UAD Prof.Dr. Muchlas, M.T. dan dilanjutkan dengan pengarahan dari para Wakil Rektor.
Dalam sambutannya, Rektor menekankan bahwa upaya penguatan manajemen risiko adalah bagian penting dari keberlanjutan dan ketahanan institusi.
“Tim harus mampu mengidentifikasi seluruh risiko yang ada di UAD. Ke depan, mitigasi harus berbasis perencanaan dan analisis risiko yang matang,” tegas Rektor.
Rektor juga menyoroti pengalaman masa pandemi yang memberikan pelajaran penting terkait mitigasi finansial. Selain itu, Rektor menekankan pentingnya antisipasi terhadap perkembangan teknologi dan dinamika kebijakan eksternal.
“Disrupsi teknologi harus diidentifikasi sejak dini. Kita juga perlu memperhatikan kebijakan pemerintah dan kebijakan PP Muhammadiyah” tambahnya.
Rektor menegaskan bahwa dokumen manajemen risiko harus mudah dipahami dan aplikatif.
“Dokumen kita harus formal, mudah dibaca, dan praktis. Setelah selesai akan kita sosialisasikan agar seluruh unit memahami arah pengelolaan risiko UAD,” jelasnya.
Rektor menargetkan Tim Manajemen Risiko dapat menyelesaikan tugasnya hingga 30 April 2026.
Tim mendapat amanah untuk menyelesaikan delapan tugas strategis berikut:
- Mengidentifikasi proses bisnis di UAD.
- Menyusun Pedoman Manajemen Risiko UAD.
- Mengidentifikasi risiko, dampak, dan kemungkinan ketidaktercapaian indikator Renstra.
- Mengimplementasikan manajemen risiko demi memastikan tercapainya indikator Renstra.
- Menyusun Peta Risiko UAD.
- Melakukan monitoring dan evaluasi risiko.
- Menyusun pelaporan dan dokumentasi manajemen risiko.
- Merumuskan Sistem Informasi Manajemen Risiko serta basis data risiko.
Para Wakil Rektor turut memberikan arahan sesuai bidang masing-masing. Secara umum mereka menekankan pentingnya komitmen lintas unit agar manajemen risiko tidak hanya menjadi dokumen formal, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam proses bisnis harian.
Setelah arahan dari pimpinan universitas, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi yang dipimpin oleh Kepala BPPU, Prof. Dr. apt. Nining Sgihartini, M.Si. Diskusi berlangsung konstruktif dan menjadi ruang bagi tim untuk menyelaraskan pemahaman, mengidentifikasi kendala awal, serta merumuskan langkah kerja jangka pendek.
Kegiatan koordinasi ini menjadi momentum penting bagi UAD untuk memperkuat budaya sadar risiko dan mendorong tata kelola universitas yang adaptif dan berkelanjutan. (smc)



