Pelangi UAD, Hadirkan Pengamatan Langit Inklusif (Pelangi) untuk Perkuat Literasi Sains Masyarakat
Yogyakarta — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui Pusat Studi Astronomi dan Pusat Studi Disabilitas menyelenggarakan kegiatan “Diseminasi Astronomi Inklusif untuk Penguatan Literasi Sains dan Teknologi Masyarakat” dengan mengusung tema “Pelangi: Pengamatan Langit Inklusif”, Kamis, 1 Oktober 2026. Bertempat di Kampus IV UAD, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan astronomi sekaligus membangun budaya literasi sains yang inklusif.

Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi peserta untuk mengenal astronomi melalui pengamatan langit secara langsung. Tidak hanya memperkenalkan fenomena benda-benda langit, kegiatan Pelangi juga membawa pesan bahwa sains dan teknologi merupakan pengetahuan yang dapat dipelajari dan dinikmati oleh semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas.
Pengamatan langit dalam kegiatan tersebut dikemas dengan pendekatan inklusif sehingga peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan objek astronomi. Pendekatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen UAD dalam menghadirkan pendidikan dan literasi sains yang ramah bagi masyarakat dengan beragam kebutuhan.

Prof. Ir. Sunardi, Wakil Rektor bidang Akademik, menyampaikan bahwa astronomi memiliki potensi besar untuk menjadi media pembelajaran yang menarik sekaligus membuka ruang interaksi yang setara bagi masyarakat.
“UAD sangat terbuka bagi adik-adik disabilitas dalam mengenal banyak hal terutama hal astronomi, kami menyediakan pusat studi astronomi dibantu dengan pusat studi disabilitas dalam menunjang pengamatan astronomi inklusif” Menurutnya, pengembangan
literasi sains tidak cukup hanya dengan menyampaikan pengetahuan, tetapi juga perlu memastikan setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses dan merasakan pengalaman belajar tersebut.
Astronomi menjadi salah satu bidang yang dapat membangun rasa ingin tahu sekaligus kemampuan berpikir kritis. Melalui kegiatan pengamatan langit, peserta tidak hanya diajak melihat objek-objek astronomi, tetapi juga memahami berbagai fenomena alam semesta berdasarkan pengetahuan ilmiah.
Kehadiran Pusat Studi Astronomi dan Pusat Studi Disabilitas UAD dalam kegiatan ini memperlihatkan pentingnya kolaborasi lintas bidang dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif. Astronomi tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu, tetapi sebagai bagian dari literasi sains yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Yudhiakto Pramudya, Ph.D, Kepala Pusat Studi Astronomi menambahkan bahwa kegiatan Pelangi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pengamatan semata, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk menumbuhkan ketertarikan masyarakat terhadap sains dan teknologi.
“dengan diadakannya Pelangi, UAD telah melakukan komitmen untuk pengembangan kegiatan astronomi inklusif dan perluasan sasaran masyarakat”

Melalui kegiatan ini, UAD menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan inovasi dalam pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai inklusivitas. Semangat tersebut juga sejalan dengan kiprah UAD dalam mengembangkan pendidikan STEM yang dapat diakses oleh penyandang disabilitas.

Kegiatan Pelangi: Pengamatan Langit Inklusif diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna sekaligus memperluas pemahaman masyarakat bahwa langit dan ilmu pengetahuan adalah ruang bersama. Dari pengamatan sederhana terhadap langit, peserta diajak untuk membangun rasa ingin tahu, menghargai keberagaman, serta menyadari bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk belajar dan berkontribusi dalam perkembangan sains dan teknologi.
Dengan semangat “mencerahkan semesta”, UAD terus berupaya menjadikan ilmu pengetahuan tidak hanya berkembang di lingkungan akademik, tetapi juga hadir dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat secara inklusif.


